Pembelajar Seumur Hidup

Senin, 08 Mei 2017

Pengalaman Spiritual Pejabat Muda



Suatu hari di dalam ruangan saya yang sejuk tiba-tiba muncul bidadari Fakultas Dharma Duta, yang dengan lembutnya membuka pintu dan mengatakan akan menghadap bapak Ketua LPM IHDN Denpasar. Saya tertegun melihat body semampainya duduk didepan meja, dan begitu terpesona mendengar untaian kata yang keluar dari mulutnya. “Maaf pak Ketut saya mohon bisa membuat tulisan, tulisannya tentang pengalaman spiritual pejabat muda”. “Pejabat muda?” Waduh akhirnya ada yang mengatakan kebenaran bahwa saya itu memang masih muda. “Iya Ibu, kalau sama ibu Yuli saya pasti menurut, pasti akan saya buatkan, ini semua hanya untuk ibu Yuli”. Itulah jawaban pamungkas saya.
Setelah sang bidadari keluar ruangan, saya mulai merenung apakah saya memiliki pengalaman spiritual. Rasanya saya bukan orang spiritual, apalagi penganut spiritual. Cuma saya teringat diskusi di kelas sewaktu kuliah S3 di Bandung, yakni mengenai artikel berjudul “Religious Factors and Hippocampal Atrophy in Late Life”, yang melaporkan hasil-hasil suatu penelitian klinis (memakai manusia sebagai objek-objek yang diteliti, tidak hanya berdasarkan teori-teori), dimana penelitian tersebut mencoba untuk menemukan hubungan antara struktur dan volume neuroanatomi dalam otak manusia dan pengalaman-pengalaman keagamaan yang mengubah kehidupan seseorang, pelatihan-pelatihan spiritual, dan keanggotaan dalam komunitas keagamaan. Hasil diskusi tersebut menyimpulkan bahwa pengalaman spiritual bisa berlangsung bahkan dengan sangat intens karena organ otak manusia memang memiliki berbagai kemampuan neural untuk menimbulkan pengalaman-pengalaman itu. Semua pengalaman spiritual dengan demikian terhubung sangat kuat, hard-wired, dengan neuron-neuron dalam organ otak; atau sebaliknya, otak manusia hard-wired dengan pengalaman spiritual. Karena semua orang memiliki neuroanatomi dalam otaknya, maka pasti pernah memiliki pengalaman spiritual termasuk saya sendiri.
Dengan tugas menulis ini membuat saya mulai mengingat-ingat pengalaman mana yang terkategori pengalaman spiritual, apalagi tulisan tentang pengalaman ini akan banyak di baca oleh banyak teman sejawat serta mahasiswa. Setelah merenung dan selesai meminum kopi buatan staf plus membuka facebook, akhirnya saya mendapat inspirasi pengalaman spiritual yang saya bisa tulis. Iya… pengalaman ini saya kategorikan spiritual karena tidak hanya bersifat sekala tetapi juga ada unsur niskala. Pengalaman ini terjadi di suatu malam lebih dari 10 tahun lalu, ketika saya dinyatakan lulus dan di wisuda tepatnya tanggal 8 September 2004, bermimpi melihat bulan dan mampu menyentuhnya. Saat itu saya tidak terlalu menghiraukan karena memang tidak tahu artinya, namun setelah beberapa hari akhirnya mimpi ini saya ceritakan sama “memek” di Ulakan.
Berselang sebulan, saya mendapat informasi bahwa STAHN Denpasar, almamater saya membuka lowongan pengangkatan CPNS untuk Dosen. Tanpa berpikir panjang saya bersama-sama teman sekelas seperti Dr (Cand) Kadek Aria Prima Dewi PF, S.Ag., M.Pd. dan Jero Gede Rai Parsua, S.Ag., M.Pd. memasukkan lamaran. Ketika memiliki kesempatan pulang kampung saya menceritakan lamaran dosen ini kepada ibu “memek”. Ketika itu ibu “memek” saya mengatakan bahwa saya pasti akan lulus, kira –kira beliau berkata “Tut jeg pasti lulus ne”. “dadi keto mek” tanya saya. “Nah memek yakin sajan, dibi ‘memek’ maan ngipi patuh ajak ane ortangang tut ipidan”. Setelah sebulan berlalu, saya mengikuti Test Tertulis dengan keyakinan penuh pasti akan lulus. Walaupun beberapa teman memprovokasi bahwa jika ingin lulus harus menyerahkan sejumlah uang kepada oknum kampus, tetapi saya percaya dengan keyakinan dan restu “memek”. Sebulan kemudian waktu pengumuman telah tiba, pagi-pagi sambil menghilangkan rasa penasaran, saya membeli kopi di warung pak Kelian Banjar Tatasan Kaja. Hayalan saya hilang ketika Jero Gede Rai Parsua, S.Ag., M.Pd. datang memberikan kabar bahwa pengumuman telah di tempel dan mengatakan dirinya telah lulus.
Cuma yang membuat jantung saya terasa berhenti ketika dikatakan saya tidak lulus. Seketika saya lari kekampus untuk melihat pengumuman tersebut dan memastikan keyakinan selama ini. Melihat pengumuman yang tertempel, ucap syukur menyelimuti pikiran, nama saya I Ketut Sudarsana, S.Ag. tercantum pada urutan nomor 5. Hal ini sesungguhnya membuktikan bahwa doa dan restu orang tua itu sangat berpengaruh pada kehidupan diri kita. Sehingga setiap bertemu ketika pulang kampung saya senantiasa menyempatkan diri untuk sujud di kaki padma ibu “memek”, seraya mengucap doa “Twameva mata cha pita twameva. Twameva bandhus cha sakha twameva. Twameva vidya dravinam twameva. Twameva sarvam mama deva deva. Ketika membaca tulisan ini tentu banyak pembaca yang merasa pengalaman saya ini bukanlah pengalaman spiritual, karena tidak menyangkut hal-hal yang bersifat supranatural dan gaib. Judul di atas “pengalaman spiritual pejabat muda” sesungguhnya agak dipaksakan karena permintaan bidadari Fakultas Dharma Duta.

Tulisan ini pertamakali dimuat pada : http://www.kompasiana.com/iketutsudarsana/pengalaman-spiritual-pejabat-muda_568b4ede5493734905746b08

Suatu hari di dalam ruangan saya yang sejuk tiba-tiba muncul bidadari Fakultas Dharma Duta, yang dengan lembutnya membuka pintu dan mengatakan akan menghadap bapak Ketua LPM IHDN Denpasar. Saya tertegun melihat body semampainya duduk didepan meja, dan begitu terpesona mendengar untaian kata yang keluar dari mulutnya. “Maaf pak Ketut saya mohon bisa membuat tulisan yang akan terbit di Majalah Brahmastra, tulisannya tentang pengalaman spiritual pejabat muda”. “Pejabat muda?” Waduh akhirnya ada yang mengatakan kebenaran bahwa saya itu memang masih muda. “Iya Ibu, kalau sama ibu Yuli saya pasti menurut, pasti akan saya buatkan, ini semua hanya untuk ibu Yuli”. Itulah jawaban pamungkas saya. Setelah sang bidadari keluar ruangan, saya mulai merenung apakah saya memiliki pengalaman spiritual. Rasanya saya bukan orang spiritual, apalagi penganut spiritual. Cuma saya teringat diskusi di kelas sewaktu kuliah S3 di Bandung, yakni mengenai artikel berjudul “Religious Factors and Hippocampal Atrophy in Late Life”, yang melaporkan hasil-hasil suatu penelitian klinis (memakai manusia sebagai objek-objek yang diteliti, tidak hanya berdasarkan teori-teori), dimana penelitian tersebut mencoba untuk menemukan hubungan antara struktur dan volume neuroanatomi dalam otak manusia dan pengalaman-pengalaman keagamaan yang mengubah kehidupan seseorang, pelatihan-pelatihan spiritual, dan keanggotaan dalam komunitas keagamaan. Hasil diskusi tersebut menyimpulkan bahwa pengalaman spiritual bisa berlangsung bahkan dengan sangat intens karena organ otak manusia memang memiliki berbagai kemampuan neural untuk menimbulkan pengalaman-pengalaman itu. Semua pengalaman spiritual dengan demikian terhubung sangat kuat, hard-wired, dengan neuron-neuron dalam organ otak; atau sebaliknya, otak manusia hard-wired dengan pengalaman spiritual. Karena semua orang memiliki neuroanatomi dalam otaknya, maka pasti pernah memiliki pengalaman spiritual termasuk saya sendiri. Dengan tugas menulis ini membuat saya mulai mengingat-ingat pengalaman mana yang terkategori pengalaman spiritual, apalagi tulisan tentang pengalaman ini akan banyak di baca oleh banyak teman sejawat serta mahasiswa. Setelah merenung dan selesai meminum kopi buatan staf plus membuka facebook, akhirnya saya mendapat inspirasi pengalaman spiritual yang saya bisa tulis. Iya… pengalaman ini saya kategorikan spiritual karena tidak hanya bersifat sekala tetapi juga ada unsur niskala. Pengalaman ini terjadi di suatu malam lebih dari 10 tahun lalu, ketika saya dinyatakan lulus dan di wisuda tepatnya tanggal 8 September 2004, bermimpi melihat bulan dan mampu menyentuhnya. Saat itu saya tidak terlalu menghiraukan karena memang tidak tahu artinya, namun setelah beberapa hari akhirnya mimpi ini saya ceritakan sama “memek” di Ulakan. Berselang sebulan, saya mendapat informasi bahwa STAHN Denpasar, almamater saya membuka lowongan pengangkatan CPNS untuk Dosen. Tanpa berpikir panjang saya bersama-sama teman sekelas seperti Dr (Cand) Kadek Aria Prima Dewi PF, S.Ag., M.Pd. dan Jero Gede Rai Parsua, S.Ag., M.Pd. memasukkan lamaran. Ketika memiliki kesempatan pulang kampung saya menceritakan lamaran dosen ini kepada ibu “memek”. Ketika itu ibu “memek” saya mengatakan bahwa saya pasti akan lulus, kira –kira beliau berkata “Tut jeg pasti lulus ne”. “dadi keto mek” tanya saya. “Nah memek yakin sajan, dibi ‘memek’ maan ngipi patuh ajak ane ortangang tut ipidan”. Setelah sebulan berlalu, saya mengikuti Test Tertulis dengan keyakinan penuh pasti akan lulus. Walaupun beberapa teman memprovokasi bahwa jika ingin lulus harus menyerahkan sejumlah uang kepada oknum kampus, tetapi saya percaya dengan keyakinan dan restu “memek”. Sebulan kemudian waktu pengumuman telah tiba, pagi-pagi sambil menghilangkan rasa penasaran, saya membeli kopi di warung pak Kelian Banjar Tatasan Kaja. Hayalan saya hilang ketika Jero Gede Rai Parsua, S.Ag., M.Pd. datang memberikan kabar bahwa pengumuman telah di tempel dan mengatakan dirinya telah lulus. Cuma yang membuat jantung saya terasa berhenti ketika dikatakan saya tidak lulus. Seketika saya lari kekampus untuk melihat pengumuman tersebut dan memastikan keyakinan selama ini. Melihat pengumuman yang tertempel, ucap syukur menyelimuti pikiran, nama saya I Ketut Sudarsana, S.Ag. tercantum pada urutan nomor 5. Hal ini sesungguhnya membuktikan bahwa doa dan restu orang tua itu sangat berpengaruh pada kehidupan diri kita. Sehingga setiap bertemu ketika pulang kampung saya senantiasa menyempatkan diri untuk sujud di kaki padma ibu “memek”, seraya mengucap doa “Twameva mata cha pita twameva. Twameva bandhus cha sakha twameva. Twameva vidya dravinam twameva. Twameva sarvam mama deva deva. Ketika membaca tulisan ini tentu banyak pembaca yang merasa pengalaman saya ini bukanlah pengalaman spiritual, karena tidak menyangkut hal-hal yang bersifat supranatural dan gaib. Judul di atas “pengalaman spiritual pejabat muda” sesungguhnya agak dipaksakan karena permintaan bidadari Fakultas Dharma Duta.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/iketutsudarsana/pengalaman-spiritual-pejabat-muda_568b4ede5493734905746b08


Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/iketutsudarsana/pengalaman-spiritual-pejabat-muda_568b4ede5493734905746b08
Suatu hari di dalam ruangan saya yang sejuk tiba-tiba muncul bidadari Fakultas Dharma Duta, yang dengan lembutnya membuka pintu dan mengatakan akan menghadap bapak Ketua LPM IHDN Denpasar. Saya tertegun melihat body semampainya duduk didepan meja, dan begitu terpesona mendengar untaian kata yang keluar dari mulutnya. “Maaf pak Ketut saya mohon bisa membuat tulisan yang akan terbit di Majalah Brahmastra, tulisannya tentang pengalaman spiritual pejabat muda”. “Pejabat muda?” Waduh akhirnya ada yang mengatakan kebenaran bahwa saya itu memang masih muda. “Iya Ibu, kalau sama ibu Yuli saya pasti menurut, pasti akan saya buatkan, ini semua hanya untuk ibu Yuli”. Itulah jawaban pamungkas saya. Setelah sang bidadari keluar ruangan, saya mulai merenung apakah saya memiliki pengalaman spiritual. Rasanya saya bukan orang spiritual, apalagi penganut spiritual. Cuma saya teringat diskusi di kelas sewaktu kuliah S3 di Bandung, yakni mengenai artikel berjudul “Religious Factors and Hippocampal Atrophy in Late Life”, yang melaporkan hasil-hasil suatu penelitian klinis (memakai manusia sebagai objek-objek yang diteliti, tidak hanya berdasarkan teori-teori), dimana penelitian tersebut mencoba untuk menemukan hubungan antara struktur dan volume neuroanatomi dalam otak manusia dan pengalaman-pengalaman keagamaan yang mengubah kehidupan seseorang, pelatihan-pelatihan spiritual, dan keanggotaan dalam komunitas keagamaan. Hasil diskusi tersebut menyimpulkan bahwa pengalaman spiritual bisa berlangsung bahkan dengan sangat intens karena organ otak manusia memang memiliki berbagai kemampuan neural untuk menimbulkan pengalaman-pengalaman itu. Semua pengalaman spiritual dengan demikian terhubung sangat kuat, hard-wired, dengan neuron-neuron dalam organ otak; atau sebaliknya, otak manusia hard-wired dengan pengalaman spiritual. Karena semua orang memiliki neuroanatomi dalam otaknya, maka pasti pernah memiliki pengalaman spiritual termasuk saya sendiri. Dengan tugas menulis ini membuat saya mulai mengingat-ingat pengalaman mana yang terkategori pengalaman spiritual, apalagi tulisan tentang pengalaman ini akan banyak di baca oleh banyak teman sejawat serta mahasiswa. Setelah merenung dan selesai meminum kopi buatan staf plus membuka facebook, akhirnya saya mendapat inspirasi pengalaman spiritual yang saya bisa tulis. Iya… pengalaman ini saya kategorikan spiritual karena tidak hanya bersifat sekala tetapi juga ada unsur niskala. Pengalaman ini terjadi di suatu malam lebih dari 10 tahun lalu, ketika saya dinyatakan lulus dan di wisuda tepatnya tanggal 8 September 2004, bermimpi melihat bulan dan mampu menyentuhnya. Saat itu saya tidak terlalu menghiraukan karena memang tidak tahu artinya, namun setelah beberapa hari akhirnya mimpi ini saya ceritakan sama “memek” di Ulakan. Berselang sebulan, saya mendapat informasi bahwa STAHN Denpasar, almamater saya membuka lowongan pengangkatan CPNS untuk Dosen. Tanpa berpikir panjang saya bersama-sama teman sekelas seperti Dr (Cand) Kadek Aria Prima Dewi PF, S.Ag., M.Pd. dan Jero Gede Rai Parsua, S.Ag., M.Pd. memasukkan lamaran. Ketika memiliki kesempatan pulang kampung saya menceritakan lamaran dosen ini kepada ibu “memek”. Ketika itu ibu “memek” saya mengatakan bahwa saya pasti akan lulus, kira –kira beliau berkata “Tut jeg pasti lulus ne”. “dadi keto mek” tanya saya. “Nah memek yakin sajan, dibi ‘memek’ maan ngipi patuh ajak ane ortangang tut ipidan”. Setelah sebulan berlalu, saya mengikuti Test Tertulis dengan keyakinan penuh pasti akan lulus. Walaupun beberapa teman memprovokasi bahwa jika ingin lulus harus menyerahkan sejumlah uang kepada oknum kampus, tetapi saya percaya dengan keyakinan dan restu “memek”. Sebulan kemudian waktu pengumuman telah tiba, pagi-pagi sambil menghilangkan rasa penasaran, saya membeli kopi di warung pak Kelian Banjar Tatasan Kaja. Hayalan saya hilang ketika Jero Gede Rai Parsua, S.Ag., M.Pd. datang memberikan kabar bahwa pengumuman telah di tempel dan mengatakan dirinya telah lulus. Cuma yang membuat jantung saya terasa berhenti ketika dikatakan saya tidak lulus. Seketika saya lari kekampus untuk melihat pengumuman tersebut dan memastikan keyakinan selama ini. Melihat pengumuman yang tertempel, ucap syukur menyelimuti pikiran, nama saya I Ketut Sudarsana, S.Ag. tercantum pada urutan nomor 5. Hal ini sesungguhnya membuktikan bahwa doa dan restu orang tua itu sangat berpengaruh pada kehidupan diri kita. Sehingga setiap bertemu ketika pulang kampung saya senantiasa menyempatkan diri untuk sujud di kaki padma ibu “memek”, seraya mengucap doa “Twameva mata cha pita twameva. Twameva bandhus cha sakha twameva. Twameva vidya dravinam twameva. Twameva sarvam mama deva deva. Ketika membaca tulisan ini tentu banyak pembaca yang merasa pengalaman saya ini bukanlah pengalaman spiritual, karena tidak menyangkut hal-hal yang bersifat supranatural dan gaib. Judul di atas “pengalaman spiritual pejabat muda” sesungguhnya agak dipaksakan karena permintaan bidadari Fakultas Dharma Duta.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/iketutsudarsana/pengalaman-spiritual-pejabat-muda_568b4ede5493734905746b08
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Profil

Dr. I Ketut Sudarsana, S.Ag., M.Pd.H. lahir di Desa Ulakan Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem Provinsi Bali pada tanggal 4 September 1982. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara yang lahir dari pasangan I Ketut Derani (Alm.) dan Ni Ketut Merta. Menikah dengan Adi Purnama Sari, S.Pd.H. dan dikaruniai tiga orang anak yakni: Saraswati Cetta Sudarsana (3 April 2010), Kamaya Narendra Sudarsana dan Ganaya Rajendra Sudarsana (11 Mei 2011). Jenjang pendidikan formal yang dilalui adalah SDN 4 Ulakan lulus pada tahun 1994, SMPN 1 Manggis lulus tahun 1997, dan SMKN 1 Sukawati lulus tahun 2000. Pada tahun 2004 menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) Pendidikan Agama Hindu di Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Denpasar, dan program Magister (S2) Pendidikan Agama Hindu di Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar lulus tahun 2009. Tahun 2011 berkesempatan melanjutkan pendidikan Doktor (S3) Pendidikan Luar Sekolah di Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia Bandung lulus tanggal 8 Juli 2014. Pengalaman kerja dimulai pada tanggal 1 Januari 2005 sampai sekarang sebagai dosen tetap Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar. Saat ini Dr. I Ketut Sudarsana, S.Ag., M.Pd.H. beralamat di Jalan Antasura Gang Dewi Madri I Blok A/3 Banjar Jurang Asri, Desa Peguyangan Kangin, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Provinsi Bali, dengan email i.ketut.sudarsana@pnsmail.go.id, iketutsudarsana@kemenag.go.id, ulakan82@gmail.com

Visitors

Flag Counter">